Showing posts with label Keluarga. Show all posts
Showing posts with label Keluarga. Show all posts

Friday, April 13, 2012

Ayahku hebat !!!

Bismillah, semoga bermanfaat..

Tulisan ini saya dedikasikan untuk ayah saya. Walaupun ayah saya tak mungkin membaca tulisan ini. Pasti, pembaca sekalian mempunyai kisah tersendiri tentang ayah kalian yang selalu kalian ingat, terpatri dalam memori kita, selalu dan selalu...

Ayahku adalah seorang sopir truk, profesi yang bagi banyak orang mungkin dibilang “rendah” dan jauh dari “ketaatan beribadah” karena orang beranggapan bahwa waktunya dihabiskan menyusuri jalan yang panjang berliku menembus dimensi waktu yang tiada habisnya. Tapi aku tak sependapat dengan anggapan tersebut, bagiku ayah adalah orang yang hebat dan taat beribadah. Ayahku tak kenal lelah dalam menghidupi anak-anaknya sampai besar-besar seperti sekarang. Pernah suatu ketika, pada waktu kecil aku ikut “jalan-jalan” bersama ayah yang sedang bertugas mengantarkan barang dari kota satu ke kota yang lain, di tengah perjalanan ayah berhenti di sebuah musholla kecil, aku pun bertanya kepada ayah, “Kok berhenti di sini Yah ? udah nyampe kota tujuan ya?” Ayahku pun menjawab,”Sudah masuk waktu Dhuhur, kita sholat dulu di Musholla”. Mendengar jawaban ayahku, aku pun tertegun sejenak dan kagum sembari turun dari truk menuju Musholla kecil tersebut. Mulai dari situlah aku mengerti akan pentingnya sholat bagi manusia, dimanapun dan dalam keadaan apapun kita wajib menegakkan sholat. Kalau ayahku mengikuti kontes rekor MURI pasti bisa menciptakan rekor sebagai ayah yang sudah sholat di berbagai mushola di pulau Jawa, hehe.. maklum lah ayahku adalah seorang musafir, jadi ketika waktu sholat tiba, dimana pun beliau berada , ketika beliau menemukan mushola di pinggir jalan maka beliau sholat di situ.

Ayah pulang seminggu sekali , biasanya setiap malam minggu, kemudian malam senin ayahku berangkat lagi bekerja. Sebagai anak yang masih kecil, aku tentu merasa kalau bertemu dengannya seminggu sekali tak cukup membuat rasa kangenku terhadap ayah terobati. Tapi begitulah konsekuensi sebagai anak sopir truk yang menghabiskan waktunya lebih banyak di jalan raya ketimbang di rumah bersama keluarga. Tiap hari sabtu dan minggu aku selalu menanti ayah pulang, tiap ada deru mesin terdengar di telinga, aku berharap bahwa itu adalah ayah. Kadang kecewa juga kalau tebakanku salah, ternyata hanya mobil lewat di depan rumah. Tapi jika tebakanku benar, rasa senangku memuncak karena ayah pulang, kemudian biasanya aku langsung bergegas naik ke atas truk dan mencari uang receh yang biasanya ada di laci mobil. Uang receh tersebut biasanya adalah uang kembalian masuk tol , pom bensin , maupun kembalian uang makan yang sengaja ayah taruh di laci mobil untukku. Kadang muncul sedikit rasa kecewa juga jika uang yang ada di laci sedikit. Tapi rasa kecewa tersebut tak berlarut-larut karena kedatangan ayah sudah merupakan kebahagiaan buatku.

Sedikit demi sedikit kebiasaanku tersebut mulai hilang karena aku sudah beranjak dewasa. Ayahku pun tahu kalau aku sudah mulai malu untuk melakukan kebiasaan kecilku itu sehingga sekarang uang yang ada di laci lebih sedikit ketimbang pada waktu aku kecil dulu. Bahkan uang yang ada di laci tersebut biasanya dibagikan kepada anak-anak kecil (tetanggaku).

Semakin beranjak dewasa, aku semakin sadar bahwa ayahku sudah tua (berumur 60 tahun) bahkan sudah saatnya pensiun dari pekerjaannya yang menuntut fisik yang prima. Akan tetapi ayahku tetap menjalani pekerjaannya tersebut. Di usia yang senja yang harusnya beliau habiskan untuk beristirahat di rumah, beliau habiskan untuk “bekerja fisik”. Aku pun tahu bahwa apa yang ayah lakukan itu adalah demi masa depan pendidikanku. Ayah tidak ingin pendidikanku hanya sebatas sampai SMA/SMK saja seperti ketujuh kakakku. Makanya Ayahku tidak ingin berhenti bekerja dulu sebelum aku lulus kuliah. Hal inilah yang menjadi “cambuk” bagiku untuk terus belajar agar kelak menjadi orang yang sukses dan berbakti kepada kedua orang tua serta keluarga. Alkhamdulillah aku pun lulus SMA dengan nilai yang memuaskan. Alkhamdulillah berkat usaha dan do’a yang tak henti-hentinya ibu panjatkan siang dan malam, aku sekarang kuliah di salah satu perguruan tinggi kedinasan ternama di Indonesia.

Sudah 2,5 tahun ku habiskan waktuku di kampus perjuangan ini , mudah-mudahan aku bisa lulus dengan nilai yang memuaskan dan membahagiakan ibu dan ayah serta seluruh keluarga tercinta,Amiin. Terima kasih ibu atas segala ketulusan doamu di siang dan di malam hari, terima kasih ayah atas segala jerih payah dan tetesan keringat yang engkau korbankan demi keluarga, terima kasih kepada kakak-kakakku yang selalu mendoakan dan memberikan support kepadaku. Terima Kasih ya Allah karena Engkau telah menganugerahiku keluarga yang hebat...


Friday, June 17, 2011

Sayangi Ibuku Ya Allah sebagaimana dia menyayangi saya sewaktu kecil...

Ada sebuah cerita menarik yang patut untuk kita jadikan sebagai bahan introspeksi bagi diri kita.

Apakah kita pernah mengatakan "ah" pada ibu kita?

Apakah kita pernah menyakiti hatinya?

Apakah kita pernah buat dia menangis karena kesalahan kita?

Atau bahkan kita pernah tidak mengakui ibu kita? Na'udzubillahi min dzalik....

Astaghfirullahal'adziim,,,, mudah-mudahan Allah senantiasa memberikan petunjuk bagi kita agar kita tidak tergolong orang yang Uququl Walidain. Ketahuilah,saat ibu mengandung kita , ibu mengharapkan kita menjadi anak yang soleh dan solehah, menjalankan perintah Allah dan Rasul. Tapi kenyataanya , Kita sendirilah yang memilih ke jalan setan yang TIDAK MUNGKIN ibu mengharapkan kita seperti itu.

Simak cerita berikut ini:

"Nak, bangun... sudah adzan subuh. Sarapanmu sudah ibu siapin di meja...". Tradisi ini sudah berlangsung 20 tahun, sejak pertama kali aku bisa mengingat. Kini usiaku sudah kepala 3 dan aku jadi seorang karyawan disebuah Perusahaan Tambang, tapi kebiasaan Ibu tak pernah berubah.

"Ibu sayang... nggak usah repot-repot Bu, aku dan adik-adikku sudah dewasa" pintaku pada Ibu pada suatu pagi. Wajah tua itu langsung berubah. Pun ketika Ibu mengajakku makan siang di sebuah restoran. Buru-buru ku keluarkan uang dan kubayar semuanya. Ingin kubalas jasa Ibu selama ini dengan hasil keringatku. Raut sedih itu tak bisa disembunyikan.

Kenapa Ibu mudah sekali sedih ?. Aku hanya bisa mereka-reka, mungkin sekarang fasenya aku mengalami kesulitan memahami Ibu karena dari sebuah artikel yang kubaca, orang yang lanjut usia bisa sangat sensitif dan cenderung untuk bersikap kanak-kanak. Tapi entahlah.... Niatku ingin membahagiakan malah membuat Ibu sedih. Seperti biasa, Ibu tidak akan pernah mengatakan apa-apa.

Suatu hari kuberanikan diri untuk bertanya, "Bu, maafin aku kalau telah menyakiti perasaan Ibu. Apa yang bikin Ibu sedih ?". Kutatap sudut-sudut mata Ibu, ada genangan air mata di sana. Terbata-bata Ibu berkata " Tiba-tiba Ibu merasa kalian tidak lagi membutuhkan Ibu. Kalian sudah dewasa, sudah bisa menghidupi diri sendiri. Ibu tidak boleh lagi menyiapkan sarapan untuk kalian, Ibu tidak bisa lagi jajanin kalian. Semua sudah bisa kalian lakukan sendiri".

Ya Allah, ternyata buat seorang Ibu... bersusah payah melayani putra-putrinya adalah sebuah kebahagiaan. Satu hal yang tak pernah kusadari sebelumnya. Niat membahagiakan bisa jadi malah membuat orang tua menjadi sedih karena kita tidak berusaha untuk saling membuka diri melihat arti kebahagiaan dari sudut pandang masing-masing. Diam-diam aku bermuhasabah, apa yang telah kupersembahkan untuk Ibu dalam usiaku sekarang ?. Adakah Ibu bahagia dan bangga pada putera putrinya ?.

Ketika itu ku tanya pada Ibu, Ibu menjawab "Banyak sekali nak kebahagiaan yang telah kalian berikan pada Ibu. Kalian tumbuh sehat dan lucu ketika bayi adalah kebahagiaan. Kalian berprestasi di sekolah adalah kebanggaan buat Ibu. Kalian berprestasi di pekerjaan adalah kebanggaan buat Ibu. Setelah dewasa, kalian berperilaku sebagaimana seharusnya seorang hamba, itu kebahagiaan buat Ibu. Setiap kali binar mata kalian mengisyaratkan kebahagiaan di situlah kebahagiaan orang tua".

Lagi-lagi aku hanya bisa berucap "Ampunkan aku ya Allah kalau selama ini sedikit sekali ketulusan yang kuberikan kepada Ibu. Masih banyak alasan ketika Ibu menginginkan sesuatu".

Betapa sabarnya Ibuku melalui liku-liku kehidupan. Sebagai seorang wanita karier, seharusnya banyak alasan yang bisa dilontarkan Ibuku untuk "cuti" dari pekerjaan rumah atau menyerahkan tugas itu kepada pembantu. Tapi tidak!. Ibuku seorang yang idealis. Menata keluarga, merawat dan mendidik anak-anak adalah hak prerogatif seorang ibu yang takkan bisa dilimpahkan kepada siapapun.

Pukul 3 dinihari Ibu bangun dan membangunkan kami untuk tahajud. Menunggu subuh, Ibu ke dapur menyiapkan sarapan sementara aku dan adik-adik sering tertidur lagi. Ah, maafin kami Ibu... 18 jam sehari sebagai "pekerja" seakan tak pernah membuat Ibu lelah. Sanggupkah aku ya Allah ?.

"Nak... bangun nak, sudah azan subuh... sarapannya sudah Ibu siapin dimeja...". Kali ini aku lompat segera. Kubuka pintu kamar dan kurangkul Ibu sehangat mungkin, kuciumi pipinya yang mulai keriput, kutatap matanya lekat-lekat dan kuucapkan "Terimakasih Ibu, aku beruntung sekali memiliki Ibu yang baik hati, ijinkan aku membahagiakan Ibu...".

Kulihat binar itu memancarkan kebahagiaan. Cintaku ini milikmu, Ibu... Aku masih sangat membutuhkanmu. Maafkan aku yang belum bisa menjabarkan arti kebahagiaan buat dirimu.

"Ya Allah, cintai Ibuku, beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakan Ibu..., dan jika saatnya nanti Ibu Kau panggil, panggillah dalam keadaan khusnul khatimah. Ampunilah segala dosa-dosanya dan sayangilah ia sebagaimana ia menyayangi aku selagi aku kecil". "Titip Ibuku ya Allah".

Sumber: http://marhaban-abhan.blogspot.com/2009/01/titip-ibuku-ya-allah.html

Thursday, June 16, 2011

Ummi... Ummi.... Ummi....


............Malam semakin larut, sang bulan pun indah tersenyum menghiasi malam. Lantunan suara jangkrik dan binatang malam mengiringi suasana sunyi sendu. Sesekali terdengar gonggongan anjing memecah keheningan malam. Nyamuk pun tak henti-hentinya bergurau denganku dengan menggigit. Ditemani secangkir susu hangat ku coba selesaikan dan kubabat habis tugasku. Dan juga sahabatku yang selalu menghibur dan membantuku , laptop. Suasana kamar pun berserakan kertas berubah menjadi berantakan tak tentu. Alhamdulillah walaupun tidak sempurna, kuselesaikan tugasku malam itu juga.............

Waktu menunjukkan pukul 01.00 WIB , ku tak langsung beranjak memejamkan mata.Iseng-iseng kulihat file-file di laptopku, karena tampak berantakan foldernya. Saat kulihat di folder tertentu(saya lupa namanya), kulihat ada file mp3 Haddad Alwi dan Sulis Album CInta Rasul. Wah, jadi teringat kembali lagu -lagu Haddad Alwi dan Sulis ketika ku masih duduk di bangku SD, pada waktu bulan puasa ku dapat kasetnya, pemberian hadiah dari kakakku.

Seketika itu ku langsung memutarnya, lagu yang kuputar pertama berjudul Ummi. Subkhanallah.... Irama lagunya membuatku merinding terharu, walaupun ku tak tahu apa arti liriknya, tapi ku yakin liriknya pasti menyentuh karena bagi saya yang tak tahu artinya pun bisa terbawa oleh lagu tersebut.
Ku ulangi lagu Ummi tersebut sampai berkali-kali, reaksi yang sama saya rasakan, malah semakin bertambah rasa rinduku pada emak di kampung halaman.

Penasaran, kemudian kucari terjemahannya di internet, wah ternyata benar, maknanya sangat dalam sekali. Berikut lirik dan makna lagu ini :

Ummi - Haddad Alwi dan Sulis

Ummi yaa lahnan a'syaqohu
(Ibu, lagu yang paling kugemari)

wanasyidan dauman ansyuduhu
(irama yang selalu kudendangkan)

Fikulli makanin adzkuruhu
(di mana sahaja, aku mengingatinya)

wa-azhollu azhollu uroddiduhu
(selalu dan selalu aku nyanyikan...)


Ummi yaa ruuhi wa-hayati
(Ibu, wahai jiwaku dan hidupku)

yaa bahjata nafsi wamunaati
(pemberi kebahagiaan dan harapan)

Unsi filhadhiri wal-ati... 2x
(sekarang, juga di masa hadapan...)


Allohu ta'aala aushoni
(Allah memerintahkan aku)

fissirri walau fil i'laani
(dalam ku sendiri atau terbuka)

Bilbirri laki wal-ihsaani... 2x
(supaya bersikap membahagiakan terhadapmu, dan mengasihimu...)


Ismuki manquusyun fi qolbi
(Namamu wahai ibu terpahat di hatiku)

Hubbuki yahdini fi darbi
(cintaku padamu membawaku ke jalan yang benar)

wadu'a-i yahfazhuki robbiy... 2x
(dan doaku selalu, semoga Allah sentiasa menjagamu...)


Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat bagi pembaca sekalian. Walaupun lagu ini berjudul Ummi, bagi kita yang memanggil ibu kita dengan sebutan bunda,mama,ibu,emak,mamake, biyunge, dan sebagainya, bisa mengganti lirik ummi dengan panggilan sayang kita terhadap ibu seperti yang saya sebutkan di atas. hehee... becanda kawan.
Akhir kata, semoga tulisanku ini bermanfaat bagi yang pembaca sekalian. Mohon maaf jika ada kesalahan kata, sesungguhnya kesalahan itu datang dari saya sendiri dan kebenaran itu pastilah datangnya dari Allah SWT.
Terima Kasih, plis komentarnya ya...

Oh iya,,, Bagi yang ingin mendownload file mp3 nya, klik di sini